Sabtu, 04 Agustus 2012

Menguap ternyata bisa menular

 


Menguap lebih menular daripada pilek. Melihat seseorang menguap, hampir pasti kamu juga akan menguap. Bahkan hanya membaca tentang menguap dapat membuatmu menguap. Kamu sudah menguap?

Jika ya, kamu tidak sendirian. Manusia menguap sepanjang hari. Kita menguap ketika hendik pergi tidur pada malam hari. dan menurut penelitian, kita banyak menguap ketika menonton televisi. Kita bahkan menguap ketika jogging cepat di taman.


Manusia bukan satu-satunya makhluk yang menguap. Banyak hewan lain, dari singa sampai ikan, membuka rahangnya lebar-lebar untuk menguap juga.

Ketika melihat orang menguap, kita sering mengira mereka letih atau bosan. Tetapi ketik ikan petarung Siam menguap, hati-hati! Ikan jantan mulai menguap ketika mereka melihat jantan lainnya. Lebih banyak menguap lagi terjadi--sekitar satu kali setiap 10 menit. Kemudian ikan menyerang ikan, dan perkelahian pun pecah. Hewan lain, seperti monyet dan singa, menguap ketika lapar.

Mengapa manusia menguap? Penjelasan yang umum adalah kita menguap untuk menghirup oksigen--misalnya ketika berada di ruang pengap. Tetapi Robert Provine, seorang psikolog yang mempelajari soal menguap, berkata itu tidak benar. Orang yang di beri oksigen murni menguap sama seringnya seperti orang yang bernapas dengan udara biasa.

Provine berkata tidak seorang pun tahu pasti mengapa orang menguap atau mengapa menguap begitu menular. Tetapi ia berusaha mencari tahu.

Selama bertahun-tahun Provine telah mengadakan sejumlah percobaan menguap di Univesitas Maryland, AS. Di salah satunya, ia meminta sukarelawan untuk duduk sendirian di ruang gelap dan berpikir tentang menguap. Ketika mereka ingin menguap, mereka menekan tombol. Ketika menguap selesai, mereka melakukan hal yang sama.

Provine menemukan bahwa rata-rata menguap berlangsung sekitar 6 detik. Satu orang yang berkonsentrasi kuat-kuat menguap 76 kali dalam setengah jam.

Berikutnya, Provine merekam dirinya sendiri menguap atau tersenyum denga video. Ketika diperlihatkan rekaman itu, hanya sekitar satu dari lima penonton tersenyum ketika melihat Provine tersenyum. Tetapi lebih dari setengah penonton menguap bersama psikolog. Kesimpulannya: Menguap tampaknya lebih menular daripada keramahan.

Ketika menguap, kita menengadahkan kepala, rahang jatuh, mata terpejam, dan alis berkerut. Provine menunjukkan bahwa ketika kita meregangkan tubuh, biasanya kita juga menguap. Menguap, katanya mungkin cara meregangkan kepala dan leher. Tetapi menguap juga menghentikan sesaat darah yang mengangkut oksigen agar tidak meninggalkan otak. Jadi menguap mungkin sekaligus membangunkan kita selain menenangkan kita.

Kamu dapat melihat sendiri bahwa manguap bukan hanya soal bernapas dalam-dalam dengan melakukan percobaan sendiri, kata Provine. Rapatkan bibirmu pada awal menguap dan cobalahbernapas lewat hidung. Hampir mustahil. Jika menguap hanya bernapas dalam-dalam, hidungmu akan bekerja sama baiknya seperti mulutmu.

Menguap begitu menular, kata Provine, karena otak kita mungkin "terprogram" untuk menanggapi wajah menguap. Karena manusai mula-mula hidup dalam kelompok, menguap mungkin cara untuk menyelaraskan perilaku kelompok. Satu orang menguap yang membuat lainnya menguap mungkin berarti waktunya tidur atau waktunya berburu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar